Blitar – Gelombang kesadaran akan kesehatan mental diiringi lonjakan angka kunjungan yang signifikan di fasilitas kesehatan. Sepanjang tahun 2025, Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi mencatat fenomena mencengangkan total 7.483 pasien mengakses layanan kesehatan mental di rumah sakit tersebut.

Data yang dirilis manajemen rumah sakit menunjukkan bahwa mayoritas dari ribuan pasien itu didominasi oleh kaum wanita, dengan diagnosis terbanyak adalah Gangguan Kecemasan Umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD).

Endah Woro Utami, Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, mengonfirmasi tren peningkatan kunjungan pasien jiwa yang terjadi secara konsisten setiap tahun. “Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan mental sekaligus peningkatan kesadaran untuk segera mencari pertolongan,” tegas Woro, Kamis (9/1/2025).

Menurut Woro, peningkatan ini terutama terjadi pada kelompok usia produktif. Tekanan multidimensional di era modern diduga menjadi pemicu utama. “Faktor pemicunya kompleks. Kami mengidentifikasi adanya tekanan pekerjaan, tantangan ekonomi yang berat, serta dinamika sosial yang semakin rumit. Namun, untuk penyebab spesifik dan detailnya, tentu diperlukan penelitian data lebih lanjut,” jelasnya.

Selain Gangguan Kecemasan Umum, tim psikiatri di poli tersebut juga sering menangani berbagai diagnosis lain. Skizofrenia paranoid, gangguan bipolar, dan gangguan kepribadian emosional tidak stabil berada di urutan berikutnya. Pola ini menunjukkan spektrum masalah kesehatan mental yang cukup luas di masyarakat.

Menanggapi kondisi ini, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi mengandalkan pendekatan penanganan berbasis bukti. Untuk pasien gangguan kecemasan, terapi utama yang diberikan adalah Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT). Terapi ini berfokus untuk membantu pasien mengidentifikasi dan mengelola pola pikir serta perilaku yang memicu kecemasan.

“Kami tidak bergantung pada satu metode saja. Protokol penanganan kami kombinasikan CBT dengan farmakoterapi, yaitu pemberian obat-obatan yang diresepkan secara sangat hati-hati sesuai indikasi dan kebutuhan individual pasien,” papar Woro.

Lonjakan angka ini menjadi sinyal penting bagi semua pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, instansi kesehatan, hingga komunitas. Di satu sisi, ia menunjukkan stigma terhadap gangguan jiwa mulai berkurang. Di sisi lain, ia juga membunyikan alarm mengenai tingginya tekanan psikologis, khususnya pada populasi usia produktif dan perempuan.

Ke depan, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas layanan Poli Jiwa. Edukasi masyarakat tentang penanganan dini dan manajemen stres juga akan digencarkan. Upaya ini bertujuan agar layanan kesehatan mental yang komprehensif dapat menjangkau lebih banyak lagi masyarakat yang membutuhkan.