Blitar – Ruas strategis Jalan Kali Brantas, Kota Blitar, kini berubah menjadi titik rawan kemacetan dan titik konflik yang memicu kemarahan pengguna jalan. Keberadaan sebuah kios pedagang buah yang telah bertahun-tahun berdiri di atas got perairan menjadi biang kerok utama. Struktur bangunan yang diduga liar itu tidak hanya melanggar aturan, tetapi secara nyata mengancam keselamatan publik dan kelestarian lingkungan.

Kios buah ini menimbulkan dampak beruntun yang serius. Bangunan tersebut mempersempit ruang lalu lintas. Kemacetan kian menjadi-jadi setiap kali mobil pengangkut buah berhenti untuk membongkar muatannya di depan kios. Aktivitas ini memaksa kendaraan lain saling berebut jalur dan menciptakan simpul kemacetan baru yang rutin. Yang lebih mengkhawatirkan, konstruksi di atas saluran air menghambat drainase dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan tiba. Kesemrawutan yang ditimbulkan semakin memperbesar potensi konflik dan kecelakaan di jalan.

Para pengguna jalan yang geram menuntut tindakan nyata dan segera dari pihak berwenang, jauh melampaui sekadar imbauan. Agus, salah seorang pengendara yang kerap melintas, mendesak dengan tegas pada Sabtu (7/2/2026), “Ini sudah darurat ketertiban! Jangan cuma bagi-bagi surat peringatan. Tertibkan dengan tegas dan jelas, tanpa tebang pilih. Kalau perlu, pemerintah harus segera melakukan penertiban total dan pembongkaran sebelum terjadi musibah lebih besar.”

Desakan keras warga ini menjadi ujian nyata bagi komitmen dinas terkait. Masyarakat menuntut penanganan yang komprehensif, tegas, dan transparan. Pemerintah harus menertibkan seluruh pelanggaran, mulai dari perambahan jalan hingga pembangunan ilegal di atas saluran air, sebagai solusi mutlak. Penegakan hukum yang konsisten akan mengembalikan fungsi jalan, mencegah bencana lingkungan, dan menjamin keamanan ribuan warga Kota Blitar yang bergantung pada ruas jalan ini setiap hari.