Blitar, Jawa Timur – Dua perempuan penyandang disabilitas, Mia (24) dan Kholifah (26), membagikan pengalaman mereka saat menggunakan transportasi umum kereta api yang dinilai masih belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.

Dalam wawancara, Mia mengungkapkan bahwa kesulitan utama yang ia hadapi adalah saat proses naik dan turun kereta.
“Kalau naik kereta, kami sering kesulitan. Harus dibantu orang lain, apalagi kalau kondisi stasiun ramai,” ujar Mia.

Ia menambahkan bahwa fasilitas yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mendukung kemandirian penyandang disabilitas.

“Kami ingin bisa mandiri, tapi fasilitasnya belum mendukung sepenuhnya,” lanjutnya.
Sementara itu, Kholifah menyoroti kurangnya fasilitas khusus yang benar-benar bisa diakses dengan mudah oleh penyandang disabilitas, terutama saat kondisi penumpang sedang padat.

“Kadang kami tidak dapat tempat duduk, padahal sangat butuh. Fasilitas khusus itu masih kurang terasa manfaatnya,” kata Kholifah.

Ia juga berharap adanya peningkatan pelayanan dari petugas di stasiun maupun di dalam kereta.

“Semoga ke depan lebih diperhatikan, supaya kami juga bisa merasa aman dan nyaman saat bepergian,” tambahnya.
Pengalaman Mia dan Kholifah menjadi gambaran bahwa aksesibilitas transportasi publik, khususnya kereta api, masih perlu ditingkatkan. Fasilitas yang inklusif tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga menjamin hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan layanan yang setara.