Blitar – Di balik kisah mistis tentang pengusir gangguan gaib dan awet muda, Petirtaan Candi Penataran menyimpan lapisan makna yang lebih dalam. Para arkeolog kini mengungkap bahwa kolam suci di kompleks percandian terluas era Majapahit ini merupakan ruang pendidikan moral dan cerminan kosmologi yang canggih, jauh melampaui sekadar tempat pembasuh muka.
Kolam persegi yang selalu terisi air jernih dari sumber mata air bawah tanah, dan dihuni ikan berwarna, menjadi jantung dari fungsi ini. “Air yang selalu murni dan hidup adalah simbol tirta amerta atau air kehidupan abadi dalam kepercayaan Hindu. Ini bukan air biasa, melainkan media transformasi spiritual dan berfungsi sebagai tempat panglukatan (penyucian) sebelum memasuki area candi utama untuk beribadah.
Keunikan petirtaan ini terletak pada dindingnya yang dipenuhi relief cerita Pancatantra, kumpulan fabel berisi ajaran moral. Para peziarah menyucikan diri secara fisik dengan air, sekaligus membersihkan pikiran melalui ajaran moral dari relief.
Terkait mitos yang beredar, seperti mandi bersama untuk melanggengkan hubungan atau air penyembuh penyakit, para ahli melihatnya sebagai transformasi budaya. “Keyakinan turun-temurun itu adalah bentuk adaptasi. Masyarakat menerapkan filosofi awal air suci pembawa berkah dan pencerahan dalam konteks kebutuhan kontemporer, seperti awet muda, jodoh dan kesembuhan. Ini menunjukkan situs hidup dan relevan,” terang beberapa sumber.
