Bangkalan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan kembali menggeliat. Rabu, (18/02/26) SPPG Burneh 09 di bawah naungan Yayasan Darul Ibad An Nabawi resmi diluncurkan.
Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan tumpeng oleh Satgas MBG Kabupaten Bangkalan bersama Camat Burneh, jajaran Forkopimcam, serta mitra yayasan, Haji Muhammad Tohir yang dikenal sebagai Pakar Sakera Kerapan Sapi Madura.
Di hadapan wartawan, Haji Tohir mengatakan, bahwa program MBG sebagai bagian dari fondasi pembangunan sumber daya manusia. Ia menegaskan dukungannya terhadap program Presiden Prabowo Subianto.
“Kami sebagai mitra mendukung penuh program Presiden Prabowo dengan menjaga pengelolaan dapur sesuai aturan yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN),” ujar Haji Tohir.
Menurut dia, pengelolaan dapur yang profesional menjadi kunci keberhasilan program. Ia mengaku telah mengelola enam dapur MBG yang tersebar di Surabaya dan Bangkalan. SPPG Burneh 09 menjadi titik pertama yang resmi diluncurkan di Kecamatan Burneh dan segera beroperasi.
Haji Tohir juga menegaskan status lahan dapur yang digunakan bukan hasil sewa. “Tanah dan bangunan ini milik pribadi. Kalau menyewa, risikonya tinggi, bisa berhenti dalam satu sampai dua tahun,” katanya.
Soal sumber daya manusia, ia memastikan seluruh kepala SPPG, relawan, dan karyawan telah melengkapi dokumen pendukung sesuai syarat dari Badan Gizi Nasional.
Dapur tersebut, kata dia, menyerap sekitar 47 relawan dan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kepala SPPG Burneh 09, Ryan Aditya Wiratama, menjelaskan, distribusi perdana direncanakan mencapai 1.600 porsi. Sasaran penerima meliputi siswa lintas jenjang, pondok pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Untuk sekolah mana saja yang menerima, masih kami petakan. Besok akan ada rapat koordinasi dengan Forkopimcam Burneh agar distribusi tepat sasaran, terutama bagi sekolah yang belum tersentuh,” ujarnya.
Ryan menambahkan, pendistribusian dijadwalkan mulai pekan kedua Ramadan. Saat ini, tim tengah merampungkan kesiapan dapur dan relawan.
“Khusus Ramadan, menu akan berbentuk kering agar lebih praktis. Relawan juga tetap bisa menyesuaikan ritme kerja dengan ibadah puasa,” kata Ryan.
Dengan peluncuran ini, MBG di Bangkalan memasuki babak baru. Tantangannya bukan sekadar jumlah porsi, melainkan konsistensi standar dan ketepatan sasaran dua hal yang kini menjadi tanggung jawab utama program tersebut.
