Blitar – Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menggelar diskusi terbuka bertajuk “Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Kota Blitar, Antara Harapan, Realita, dan Tantangan 5 Tahun ke Depan” di Area Museum PETA, Minggu (2/3/2026) malam. Kegiatan yang dikemas dalam konsep Ngopi Ramadan (Ngobrol Gagasan dan Opini Publik Inklusif) ini dihadiri perwakilan kepala OPD, instansi, awak media, LSM, influencer, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin menyampaikan apresiasi atas capaian satu tahun kepemimpinannya bersama jajaran. “Terima kasih untuk semua OPD dan instansi terkait. Dalam satu tahun pemerintahan ini kita mendapat 70 penghargaan, dan saya mendapat teman OPD yang kapabel dalam tata kelola pemerintahan. Itu menjadi kebanggaan saya sebagai kepala daerah,” ujarnya.

Ia juga berterima kasih kepada masyarakat, media, dan pegiat sosial yang hadir. “Kegiatan ini sangat baik sebagai evaluasi dan catatan dari banyak pihak agar kami selalu berbenah demi Kota Blitar yang lebih baik,” tambahnya.

Refleksi tersebut juga menyoroti tantangan berat akibat pemangkasan anggaran. “Hampir 80 persen APBD kita dipangkas. Itu sangat berat, sehingga banyak layanan terpaksa dipangkas,” tegas Mas Ibin.

Beberapa program terdampak efisiensi antara lain bingkisan Ramadan untuk pekerja yang ditiadakan, bantuan beras Rastrada yang hanya menjangkau separuh penerima, serta program Karya Mas yang berkurang separuh. Meski demikian, ia memastikan pelayanan masyarakat tetap berjalan.

Pemkot Blitar berhasil menghemat anggaran signifikan melalui pemotongan Tambahan Penghasilan (Tukin) P3K sebesar 50 persen dan PNS 15 persen, yang menghasilkan penghematan Rp26 miliar. Efisiensi barang dan jasa, termasuk jasa THL, mencapai Rp76 miliar. Total penyesuaian fiskal mencapai Rp126 miliar.

“Rp126 miliar itu nyarinya dari mana? Ya semua kita sisir. Ini memang dampak efisiensi,” jelasnya.

Meski dihimpit efisiensi, Pemkot Blitar mengarahkan kompensasi pemangkasan untuk program strategis jangka panjang, seperti pendidikan, pertumbuhan ekonomi, dan penanganan stunting. Mas Ibin optimistis Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetap tumbuh pada 2026–2027.

Sektor kesehatan menjadi tumpuan utama peningkatan PAD. “Sumber pendapatan terbesar kita dari jasa, termasuk rumah sakit. Kesehatan jadi tumpuan utama PAD,” ungkapnya.

Selain itu, digitalisasi layanan seperti e-parkir di fasilitas pemerintah akan didorong. Sektor pariwisata, terutama perhotelan dan restoran yang menunjukkan tren kenaikan, juga akan dimaksimalkan.

Di akhir acara, Mas Ibin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang timbul akibat keterbatasan anggaran. “Efisiensi kita danai program yang berdampak langsung dan bermanfaat bagi masyarakat. Itu harapan kami,” pungkasnya.