Bangkalan – Menindaklanjuti keluhan warga terkait bau tak sedap dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di belakang Pasar Ki Lemah Duwur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan bergerak cepat melakukan penanganan.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bangkalan, Ahmad Siddik, turun langsung ke lokasi pada Rabu (28/01/2026) untuk memastikan kondisi TPST. Hasilnya, tumpukan sampah yang sebelumnya menumpuk dan menimbulkan bau menyengat kini telah dibersihkan.
Berdasarkan keterangan Plt Kadis DLH, sedikitnya 75 truk sampah telah diangkut keluar dari area TPST.
“Kami sudah menyediakan dua kontainer di luar lokasi. Jadi TPS3R yang biasanya membuang ke TPST, sekarang wajib membuang ke kontainer tersebut dan harus diangkut setiap hari,” jelas Ahmad Siddik.
Ia juga mengakui masih banyak TPST, RDU, dan TPS3R yang belum beroperasi secara optimal. Karena itu, DLH terus memberikan pemahaman kepada pengelola terkait tata kelola sampah yang benar agar persoalan sampah di Kota Dzikir dan Sholawat bisa teratasi.
“Untuk sementara, permasalahan terbesar ada di RDU. Setiap hari kami angkut dua truk. Seharusnya jika RDU dikelola dengan baik, sampah yang dibuang tinggal seperempatnya saja. Yang kami angkut ke TPA itu seharusnya hanya residunya,” terangnya.
Siddik menambahkan, pengelolaan TPST sebelumnya berada di bawah pihak ketiga, PT Riciki. Namun sejak Desember lalu, pengelolaan tersebut resmi dilimpahkan ke DLH Bangkalan.
Ke depan, DLH Bangkalan berencana membuka lokasi pengelolaan sampah baru di bekas Terminal Tipe A Desa Masaran, Kecamatan Tragah, serta di Kecamatan Sepuluh. Langkah ini diharapkan mampu mengatasi volume sampah Bangkalan yang mencapai 120 ton per hari.
Tak hanya itu, pada tahun 2026 DLH Bangkalan juga menargetkan pembangunan TPS3R di enam titik lokasi berbeda, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola sampah.
“Permasalahan TPS3R dan TPST yang sudah bertahun-tahun, termasuk yang ada di RDU, akan kami rombak total,” pungkasnya.
