Blitar – Jumat (13/2/2026) menjadi hari yang tidak akan dilupakan oleh seluruh keluarga besar UPT SMP Negeri 7 Blitar. Sekolah yang akrab disapa SALOSTA ini merayakan puncak Dies Natalis ke-50. Setengah abad perjalanan pendidikan mereka kemas dalam tema megah, “Abinaya Saptama”, yang dalam sansekerta bermakna “Kilau Tak Terbatas di Usia Emas” .

Jika setengah abad lalu Salosta hadir sebagai sekolah menengah pertama yang sederhana, maka hari ini Salosta berdiri kokoh sebagai benteng peradaban. Ratusan siswa- siswi berlomba menampilkan aksi, paduan suara, serta gelaran budaya yang menampilkan ribuan karya.

Kepala UPT SMPN 7 Blitar, Saiful Salim, S.Pd. , dalam pidatonya di hadapan jajaran Dinas Pendidikan, orang tua siswa dan alumni, tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia berdiri di tengah lapangan upacara yang penuh dengan instalasi seni bertema.

“Tepat hari ini, napas kami sudah setengah abad. Kami tidak hanya meniup lilin dan memotong tumpeng. Abinaya Saptama adalah sumpah kami untuk terus memancarkan kilau yang tak terbatas. Sekolah ini tidak lagi menjadi tempat persinggahan biasa, tetapi rumah besar bagi mimpi-mimpi anak-anak Blitar,” ujar Saiful.

Saiful menegaskan bahwa transformasi fisik sekolah hanyalah kulit luar. Revolusi terbesar justru terjadi di ruang kelas, laboratorium, dan lapangan olahraga.

“Kami tidak bekerja sendiri. Orang tua, guru, masyarakat, dan terutama siswa adalah aktor utama perubahan ini. Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak kami kini mengharumkan nama Blitar di kancah nasional. Kami tidak lagi mengejar ketertinggalan. Kami memimpin. “

Ia menutup sambutan dengan ajakan yang menggugah: “Mari kita buktikan bahwa usia emas bukanlah akhir, tetapi awal dari keabadian prestasi. Salosta, kilau kami tidak akan pernah padam!”

Dikesempatan yang sama, Dwi Suprianto, S.Kom., M.Pd. , Pengawas Sekolah Ahli Muda Dinas Pendidikan Kota Blitar. Selama ini publik hanya mendengar bisik-bisik tentang transformasi Salosta, namun hari ini Dwi membuka tabir dengan data dan fakta.

“Jika Anda bertanya kepada saya sepuluh tahun lalu tentang SMPN 7, mungkin saya akan diam. Tapi hari ini, saya ingin semua mendengar, Branding buruk yang dulu membayangi sekolah ini telah hilang dan bermetamorfosis luar biasa,” tegas Dwi.

Dwi mengakui bahwa Salosta dulu sempat mendapat predikat sebagai “sekolah pinggiran” dengan segala keterbatasan citra. Bahkan tak jarang masyarakat meragukan kualitas lulusannya.

“Hari ini, saya tunjukkan datanya. Prestasi akademik Salosta melesat 300 persen dalam tiga tahun terakhir. Kami mendominasi lomba penelitian tingkat provinsi. Dari non-akademik, jangan ditanya. Atlet-atlet muda Salosta kini menghuni venue-venue nasional. Stigma ‘sekolah buangan’, ‘sekolah nakal’, atau ‘sekolah pelarian’ itu sudah tidak relevan. Itu adalah sejarah kelam yang tidak akan kembali. “

Dwi menambahkan bahwa capaian ini bukan kebetulan. Kepemimpinan Saiful Salim dinilai berhasil mengubah budaya sekolah dari defensif menjadi agresif dalam meraih peluang.

“Selamat ulang tahun yang ke-50, Salosta. Anda tidak hanya berhasil menghapus noda masa lalu, tetapi melukis kanvas masa depan dengan tinta emas. Saya bangga menjadi bagian dari pengawas yang melihat sekolah ini bangkit dari dan berdiri sejajar dengan sekolah unggulan lainnya”,tutupnya.