Taman Kehati Tanjungsari Blitar yang telah berdiri selama beberapa tahun terakhir kini menjadi sorotan. Ruang terbuka yang diharapkan menjadi pusat aktivitas warga ini dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait, terutama dalam hal fasilitas pendukung bagi pedagang dan pengunjung.
Padahal, lokasi taman cukup strategis dan sering dimanfaatkan warga untuk bersantai pada sore hingga malam hari. Sejumlah pedagang kaki lima juga menggantungkan penghasilan dari aktivitas di sekitar taman tersebut.
Banyak pedagang yang Mengeluh Saat Musim Hujan
Keluhan paling sering muncul ketika hujan turun. Area berjualan yang terbuka membuat pedagang kesulitan melindungi barang dagangan mereka. Hingga kini, belum tersedia tenda permanen atau fasilitas peneduh yang memadai.
Akibatnya, banyak pedagang terpaksa menghentikan aktivitas lebih awal saat cuaca buruk. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada pendapatan harian mereka.
“Kalau hujan ya terpaksa tutup, karena tidak ada tempat berteduh,” ujar Jr. (41) th salah satu pedagang di kawasan Taman.
Taman Kehati sebenarnya memiliki potensi besar sebagai ruang publik dan wisata lokal, sekaligus pusat ekonomi kecil masyarakat. Keberadaan taman ini mampu menarik warga sekitar untuk berkumpul, berolahraga ringan, hingga menikmati jajanan malam.
Namun tanpa penataan yang lebih baik, potensi tersebut belum tergarap maksimal. Penerangan, fasilitas duduk, serta area khusus pedagang dinilai masih perlu pembenahan agar taman terlihat lebih tertata dan nyaman.
Warga berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap Taman Ke Hati Tanjungsari Blitar. Penambahan fasilitas seperti tenda permanen bagi pedagang, perbaikan drainase, serta penataan area dinilai dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus mendukung perekonomian warga kecil.
Jika dikelola dengan baik, taman ini berpeluang menjadi salah satu ikon ruang terbuka yang hidup di Kota Blitar, bukan sekadar tempat singgah yang aktivitasnya bergantung pada cuaca.
