Sampang – Sorotan publik kini tertuju pada Penjabat (PJ) Desa Margantoko, berinisial M, setelah dirinya mengklaim sebagai “jagoan Jimad Sakteh”. Klaim bombastis ini justru muncul di saat yang tidak tepat: ketika BUMDes desa tersebut carut-marut dan penyaluran Dana Desa (DD) tahap pertama mangkrak tanpa kejelasan.

Ketika ditemui oleh awak media, PJ M dengan nada percaya diri menyatakan, “Posisi saya sebagai PJ ini bukanlah skenario atau permainan kata-kata belaka. Ini adalah bentuk perjuangan, itulah JiMAD SAKTEH!,” Sabtu (3/1/2026).

Pernyataan ini langsung menyulut reaksi keras dari berbagai kalangan masyarakat. Banyak warga yang mengernyitkan dana, mempertanyakan relevansi klaim “Jimad Sakteh” di tengah kegagalan nyata mengelola desa. Daripada menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk, sang pemimpin justru disibukkan dengan retorika yang tidak menjawab persoalan riil.

Masyarakat Margantoko mulai meragukan kapasitas dan niat baik sang penjabat. Kinerja PJ M dinilai jauh dari harapan. BUMDes yang seharusnya menjadi mesin penggerak ekonomi desa, justru berjalan tanpa arah yang jelas. Sementara itu, proyek-proyek DD tahap pertama terbengkalai, memperlihatkan ketidakmampuan dalam eksekusi program. Janji lamanya untuk mengungkap berbagai masalah di masa kepemimpinan sebelumnya juga terbukti hanya menjadi omong kosong, memperlihatkan konsistensi pada pola kerja yang penuh janji namun minim bukti.

Tekanan terhadap pemerintah daerah pun semakin meningkat. Warga mendesak agar otoritas terkait segera turun tangan dan mengambil langkah tegas. Tuntutan untuk mengganti PJ M dengan sosok yang lebih kredibel, memiliki kapasitas memadai, dan berintegritas tinggi semakin menggema di tengah publik. Masyarakat menuntut kepemimpinan yang solutif, bukan sekadar retorika tentang “kesaktian” yang tidak jelas manfaatnya bagi kemajuan desa.(Mat)