Blitar – Semarak budaya Nusantara memenuhi Gedung Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, pada Senin (1/12/2025). Perhelatan tersebut merupakan bagian dari perayaan Dies Natalis ke-48 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Tanggung, yang mengangkat tema “Exploring Potential, Building Creativity, and Strengthening Cultural Identity” (Mengeksplorasi Potensi, Membangun Kreativitas, dan Memperkuat Identitas Budaya).
Acara puncak perayaan hari jadi sekolah itu menampilkan berbagai pertunjukan apik dari siswa-siswi. Panggung utama dihiasi dengan tarian tradisional yang penuh energi dari Sulawesi dan Sumatra Utara, menunjukkan kekayaan gerak dan busana daerah. Tidak kalah menghibur, alunan tembang mocopat Jawa yang syahdu juga turut memeriahkan acara, menciptakan perpaduan budaya yang harmonis dan menarik perhatian seluruh undangan.
Kepala Sekolah SDN 2 Tanggung, yang diwakili Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Kepanjenkidul Henri Dian Santoso, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perayaan ini bukan sekadar acara seremonial. “Dies Natalis ke-48 ini kami maknai sebagai momentum untuk memperkuat karakter anak didik melalui pengenalan dan penghayatan budaya bangsa. Melalui tari dan tembang, kami ingin menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kekayaan budaya, dan rasa percaya diri pada siswa sejak dini,” ujarnya.
Ia menambahkan, penampilan tersebut merupakan hasil dari proses pembelajaran ekstrakurikuler dan mata pelajaran seni budaya di sekolah. “Kami sangat bangga melihat antusiasme dan dedikasi anak-anak. Ini adalah bukti bahwa semangat melestarikan budaya dapat tumbuh subur di generasi muda kita,” tambah Henri
Perayaan yang berlangsung lancar dan meriah ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kota Blitar, Komite Sekolah, orang tua siswa, serta tokoh masyarakat setempat. Keberhasilan acara ini mendapat apresiasi tinggi dari para tamu undangan yang terpesona dengan performa dan kerapian para siswa.
Dengan semangat baru di usia ke-48, SDN 2 Tanggung berkomitmen untuk terus menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mencetak generasi yang mencintai dan melestarikan identitas budaya Indonesia. (Nugi)
