Bangkalan – PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) berhasil mengembangkan potensi pariwisata lokal sekaligus perbaikan lingkungan dari masalah abrasi di kawasan Wisata Pantai Pasir Putih Tlangoh.

Melalui upaya penanaman hexa reef di perairan Pantai Tlangoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan telah memberikan harapan bagi masa depan konservasi alam sekaligus kesejahteraan masyarakat setempat.

Sr Manager Regional Indonesia Timur PHE WMO, Sigit Dwi Aryono mengatakan, keberhasilan ini berawal saat bekerja sama dengan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya pada 2022 yang menemukan besarnya ancaman abrasi yang di akibatkan arus ombak dan aktivitas penambangan pasir ilegal serta abrasi yang mencapai 7 meter per tahun.

” Lalu kami menjalankan konsep One Belt One Road (OBOR) sebagai bentuk strategi dan sinergi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat wilayah pesisir utara Kabupaten Bangkalan,” ujar Sigit, Jum’at (26/12/25).

Konsep tersebut berpacu pada empat prinsip utama yaitu lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Selain itu, PHE WMO memprakarsai inovasi penahan abrasi, yakni struktur buatan berbentuk heksagonal atau segi enam yang digunakan di wilayah pesisir sebagai alat pengendali abrasi, yang ditanam di bawah laut.

” Tidak hanya berfungsi menahan abrasi, pada akhirnya hexa reef menjadi habitat alami ekosistem laut seperti perikanan. Ini menunjukkan fungsinya untuk mendukung terbentuknya habitat baru,” ucapnya.

Tercatat sebanyak 20 spesies ikan karang yang terdiri atas 13 spesies ikan major dan tujuh spesies ikan target dengan kelimpahan masing-masing sebesar 72,897 persen dan 27,103 persen. Hal ini memudahkan nelayan setempat untuk mencari ikan tanpa perlu melaut terlalu jauh.

” Hexa reef menjadi media tumbuhnya terumbu karang yang mempesona bagi wisatawan. Betapa tidak karang yang dominan di sana adalah karang lembaran (coral foliose) dengan persen tutupan 10,44 persen serta karang massif (coral massive) dengan persen tutupan sebesar 7,87 persen,” imbuhnya.

Keberhasilan ini tentunya tidak lepas dari dukungan Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat. Ia mampu membangun kesadaran di kalangan masyarakat Tlangoh yang semula tidak peduli terhadap lingkungan, saat ini sadar akan lingkungan sekitar.

” Dengan adanya hexa reef ini, rantai nilai program tercipta berkat adanya kerjasama antara pokdarwis yang mengelola kawasan wisata dengan kelompok nelayan dan pelaku usaha mikro kecil menengah,” kata Hidayat.

Setidaknya ada 40 UMKM yang terbentuk dan beraktivitas di kawasan wisata Pantai Pasir Putih Tlangoh. Mereka menawarkan makanan dan minuman ringan, oleh-oleh, penyediaan jasa, dan lain sebagainya, serta menyediakan lahan parkir kendaraan.

“Tergiur dengan peluang di kampung halaman sendiri, sejumlah mantan pekerja migran Indonesia dari Desa Tlangoh memutuskan untuk tidak merantau kembali. Mereka memilih membuka usaha di Pantai Pasir Putih Tlangoh,” tambahnya.

Sementara itu, General Manajer Zona 11, Zulfikar Akbar menuturkan, bahwa adanya program ini memberikan dampak terhadap penyedia lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi Desa.

” Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Buat kami, mereka semua adalah hero tanpa jubah dan topeng dari Tlangoh,” pungkas Zulfikar.