Bangkalan, jatim.diksiber.id – Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tunjung 02 Burneh dari Yayasan Kemala Bhayangkari sukses meluncurkan uji coba tahap kedua program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN). Uji coba inovatif dengan sistem prasmanan ini dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Rohman, Naroan, Tunjung, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (22/10/26).

Program strategis ini dirancang secara adaptif dengan membagi metode pelayanan berdasarkan jenjang usia penerima manfaat, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Langkah ini diambil untuk memastikan makanan yang didistribusikan tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga disajikan dengan metode yang paling efektif, aman, dan nyaman bagi anak-anak.

Mitra SPPG Tunjung 02 Burneh, H. Gofur, mengatakan bahwa untuk siswa di tingkat SD, SMP, dan SMA, pihaknya menerapkan metode prasmanan. Pendekatan ini dinilai sangat cocok karena anak usia sekolah dasar hingga menengah telah memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih matang.

“Melalui sistem prasmanan, para siswa diajarkan nilai-nilai kemandirian, budaya mengantre yang rapi, serta kedisiplinan dalam mengambil porsi makan yang teratur sesuai dengan kebutuhan nutrisi mereka,” ujar H. Gofur.

Sebaliknya, pendekatan yang lebih personal dan protektif diterapkan khusus untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK). Berdasarkan evaluasi bersama para guru, SPPG memutuskan untuk mempertahankan metode omprengan (wadah sekat tertutup) bagi anak usia dini.

“Anak-anak TK umumnya sudah mendapatkan sarapan dari orang tua mereka di rumah sebelum berangkat. Selain itu, karena mereka masih berada di fase awal belajar mandiri, metode ompreng dinilai jauh lebih aman, praktis, dan higienis untuk menjaga makanan mereka,” imbuh H. Gofur.

Langkah diferensiasi metode penyajian ini didukung penuh oleh ahli gizi SPPG, Mufida. Ia menegaskan bahwa sistem prasmanan memang lebih ideal diterapkan pada siswa usia SD ke atas yang memiliki tingkat kedisiplinan lebih tinggi.

“Untuk anak TK, ke depannya kita akan tetap mempertahankan metode ompreng. Dari segi psikologis dan kebiasaan, anak TK masih baru belajar bersosialisasi di sekolah dan sebagian besar sudah sarapan di rumah. Sementara untuk anak SD, SMP, dan SMA, metode prasmanan ini akan terus kita coba dan matangkan karena mereka jauh lebih siap untuk disiplin,” pungkas Fida.

Kombinasi kedua metode penyajian ini mendapat respons yang sangat positif dari pihak sekolah dan orang tua murid. Melalui penyesuaian berbasis usia ini, SPPG Tunjung 02 Burneh tidak hanya berhasil menyalurkan nutrisi terbaik bagi generasi emas Bangkalan, tetapi juga sukses mengintegrasikan pendidikan karakter dan kedisiplinan di lingkungan sekolah sejak dini.