Bangkalan, jatim.diksiber.id – Kontingen SMAN 1 Bangkalan kembali membuktikan kelasnya sebagai sekolah pencetak generasi unggul. SMANSABA sukses memborong gelar prestisius dalam malam Grand Final Pemilihan Duta Wisata Kacong Jhebbhing Bangkalan 2026 yang digelar di Gedung Ratu Ebuh, Rabu (21/10/26).
Dari total 14 siswa yang dikirim sejak tahap awal eliminasi, 5 murid SMANSABA berhasil menembus grand final dan sukses mempertahankan prestasi seperti tahun sebelumnya.
Prestasi gemilang diraih oleh Jhebbhing Annisa dinobatkan sebagai Juara 1 Jhebbhing Bangkalan 2026, disusul oleh Jhebbhing Naysila sebagai Jhebbhing Wakil 1 Bangkalan 2026 (Juara 2). Selain mendominasi posisi puncak kategori Jhebbhing, delegasi Smansaba juga menempatkan Jhebbhing Talitha sebagai Jhebbhing Berbakat, Jhebbhing Septi sebagai Jhebbhing Persahabatan, serta Kacong Raka yang meraih penghargaan busana terbaik.
Kepala SMAN 1 Bangkalan, Jumali, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya yang mendalam atas keberhasilan anak didiknya dalam mempertahankan tradisi juara di ajang tahunan ini.
“Kami bangga dan sangat mengapresiasi kerja keras anak-anak. Sukses meraih Juara 1 dan 2 Jhebbhing ini merupakan keberhasilan dalam mempertahankan prestasi tahun kemarin,” ujar Jumali, Jum’at (23/10/26).
Jumali membeberkan bahwa rahasia kesuksesan ini terletak pada sistem karantina dan pembinaan internal yang matang. Pihak sekolah melakukan seleksi ketat berdasarkan kriteria dinas, mulai dari tinggi badan hingga penampilan menarik, dilanjutkan dengan program bimbingan intensif dari pagi hingga sore setiap hari di aula sekolah.
“Namun, saya ingatkan kepada anak-anak agar menerima kemenangan ini sebagai amanah untuk membawa Bangkalan ke arah yang lebih positif dan terbuka sesuai predikat baru mereka,” ucapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pembelajaran luar kelas ini untuk mengasah kemampuan bersosialisasi dan mentalitas para siswa. Ajang ini sekaligus mematahkan stigma bahwa siswa SMANSABA hanya berfokus pada kegiatan belajar di ruang kelas.
“Kami latih secara total, mulai dari cara bicara (public speaking) hingga cara berjalan (catwalk). Bahkan, karena banyak siswa kami yang dipasangkan dengan sekolah lain dari luar, kami panggil pasangan mereka ke aula sekolah demi membangun chemistry yang kuat sebelum naik panggung,” tambahnya.
Setelah resmi menyandang status sebagai duta pariwisata di bawah naungan dinas, para siswa diharapkan mampu memanfaatkan media sosial mereka untuk mengampanyekan destinasi wisata Bangkalan yang kaya akan potensi religi, alam, dan buatan.
Meski begitu, Jumali memberikan catatan kritis berbasis keilmuan geografi terkait pentingnya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan jaminan stabilitas keamanan di daerah demi mendukung kinerja promosi para duta wisata.
“Pariwisata itu erat kaitannya dengan something to see, something to do, dan something to buy. Namun, kunci utamanya adalah keamanan. Percuma anak-anak kami gencar mempromosikan pariwisata lewat media sosial jika sektor keamanannya belum terjamin dan SDM-nya belum ditingkatkan,” pungkasnya.